Televisi Digital
Di era teknologi digital saat ini
telah berkembang suatu paradigma baru yaitu masyarakat yang disebut sebagai
“Knowledge Based Society” atau masyarakat yang berbasis pada pengetahuan. Yaitu
masyarakat yang memiliki pengetahuan dan kemampunan untuk mengakses dan
memanfaatkan informasi serta menjadikan informasi sebagai nilai tambah dalam
peningkatan kualitas kehidupan. Selain itu, di era teknologi digital ini telah
terjadi konvergensi teknologi dalam media penyiaran (broadcasting), media
telekomunikasi dan media teknologi informasi, misalnya siaran TV bisa dilihat
di HP, siaran TV dilihat melalui internet, demikian juga dengan adanya
penyiaran TV digital nantinya akses internet pun dapat melalui TV.
v Pengertian Siaran TV Digital
Televisi digital (bahasa Inggris: Digital
Television, DTV) atau penyiaran digital adalah jenis televisi yang menggunakan
modulasi digital dan sistem kompresi untuk menyiarkan sinyal video, audio dan
data ke pesawat televisi. TV Digital bukan berarti pesawat televisinya yang
digital, namun lebih kepada sinyal yang dikirimkan adalah sinyal digital atau
mungkin yang lebih tepat adalah siaran digital (Digital Broadcasting). Televisi
resolusi tinggi atau high-definition television (HDTV), yaitu: standar televisi
digital internasional yang disiarkan dalam format 16:9 (TV biasa 4:3) dan
surround-sound 5.1 Dolby Digital. TV digital memiliki resolusi yang jauh lebih
tinggi dari standar lama. Penonton melihat gambar berkontur jelas, dengan
warna-warna matang, dan depth-of-field yang lebih luas daripada biasanya. HDTV memiliki jumlah pixel hingga 5 kali
standar analog PAL.
Televisi digital atau penyiaran digital adalah jenis
televisi yang menggunakan modulasi digital dan sistem kompresi untuk menyiarkan
sinyal video, audio, dan data ke pesawat televisi. Berdasarkan hasil survey
dinyatakan bahwa saat ini penggunaan perangkat TV di Indonesia cukup tinggi
dibandingkan media informasi lain, yaitu 55% dari seluruh jumlah keluarga di
Indonesia itu memiliki TV atau terdapat 40 juta pemirsa TV, maka dapat
dinyatakan bahwa media TV merupakan sarana yang paling tepat untuk digunakan
sebagai distribusi dan diseminasi informasi di Indonesia. Dengan keterbatasan
alokasi frekuensi yang digunakan untuk penyiaran media TV, tentunya akan
mengakibatkan jumlah informasi yang diperoleh masyarakat melalui siaran TV
menjadi terbatas dan kurang berimbang. Hal inilah yang dijadikan pemerintah
untuk untuk melakukan migrasi dari siaran TV Analog ke siaran TV Digital.
Digitalisasi - dalam
produksi, distribusi dan resepsi - ditransformasikan tradisional media, dimulai
pada pertengahan 1990-an: dalam komunikasi satelit, dalam pencatatan teknologi,
dalam generasi baru set televisi, di televisi kabel, di radio dan penyiaran
televisi, dan banyak lagi. Industri konvergensi segera diikuti. Dari compact
disc (CD) untuk rekaman digital (DAT) untuk disc video digital (DVD) dan pintar
VCR (DVR dan TiVo), dari televisi definisi tinggi (HDTV) untuk multiplexing
televisi digital (DTV) untuk mengarahkan satelit siaran (DBS) ke YouTube, dari
sel video telepon untuk iPod ke radio satelit (XM, Sirius) - semua menarik pada
berbagai bentuk konvergensi industri serta teknologi digital. Mereka mengancam
untuk memecah perbatasan media yang lebih tua, dan tantangan struktur lama
kepemilikan, kontrol, kadar dan penonton menggunakan juga. Mereka membuat
beberapa hal lebih mudah - seperti berbagi berbagai bentuk media di seluruh
hambatan properti nasional dan intelektual, dan beberapa hal keras seperti melindungi privasi dan mencari tahu
siapa yang akan membayar. Bab ini membahas ini sejarah, teknologi dan debat
pada gilirannya, dimulai dengan asal-usul digital televisi.Televisi digital
atau DTV adalah jenis televisi yang menggunakan modulasi digital dan sistem
kompresi untuk menyiarkan sinyal gambar, suara, dan data ke pesawat televisi.
Televisi digital merupakan alat yang digunakan untuk menangkap siaran TV
digital, perkembangan dari sistem siaran analog ke digital yang mengubah
informasi menjadi sinyal digital berbentuk bit data seperti komputer.
Selain alasan di atas, pengembangan televisi digital
antara lain dikarenakan:
• Perubahan lingkungan eksternal, antara lain: 1. Pasar
TV analog yang sudah jenuh 2. Kompetisi dengan sistem penyiaran satelit dan
kabel
• Perkembangan teknologi, misalnya: 1. Teknologi
pemrosesan sinyal digital 2. Teknologi transmisi digital 3. Teknologi
semikonduktor 4. Teknologi peralatan yang beresolusi tinggi
v Frekuensi TV digital
Secara
teknis, pita spektrum frekuensi radio yang digunakan untuk televisi analog
dapat digunakan untuk penyiaran televisi digital. Perbandingan lebar pita
frekuensi yang digunakan teknologi analog dengan teknologi digital adalah 1 :
6. Jadi, bila teknologi analog memerlukan lebar pita 8 MHz untuk satu kanal
transmisi, teknologi digital dengan lebar pita yang sama (menggunakan teknik
multipleks) dapat memancarkan sebanyak 6 hingga 8 kanal transmisi sekaligus
untuk program yang berbeda. TV digital ditunjang oleh teknologi penerima yang
mampu beradaptasi sesuai dengan lingkungannya. Sinyal digital dapat ditangkap
oleh sejumlah pemancar yang membentuk jaringan berfrekuensi sama sehingga
daerah cakupan TV digital dapat diperluas. TV digital memiliki peralatan suara
dan gambar berformat digital seperti yang digunakan kamera video.
v Keunggulan frekuensi TV
digital
Siaran
menggunakan sistem digital memiliki ketahanan terhadap gangguan dan mudah untuk
diperbaiki kode digitalnya melalui kode koreksi error. Akibatnya adalah
kualitas gambar dan suara yang jauh lebih akurat dan beresolusi tinggi
dibandingkan siaran televisi analog. Selain itu siaran televisi digital dapat
menggunakan daya yang rendah.
Transmisi
pada TV Digital menggunakan lebar pita yang lebih efisien sehingga saluran
dapat dipadatkan. Sistem penyiaran TV Digital menggunakan OFDM yang bersifat
kuat dalam lalu lintas yang padat. Transisi dari teknologi analog menuju
teknologi digital memiliki konsekuensi berupa tersedianya saluran siaran
televisi yang lebih banyak. Siaran berteknologi digital yang tidak memungkinkan
adanya keterbatasan frekuensi menghasilkan saluran-saluran televisi baru.
Penyelenggara televisi digital berperan sebagai operator penyelenggara jaringan
televisi digital sementara program siaran disediakan oleh operator lain. Bentuk
penyelenggaraan sistem penyiaran televisi digital mengalami perubahan dari segi
pemanfaatan kanal ataupun teknologi jasa pelayanannya. Terjadi efisiensi
penggunaan kanal frekuensi berupa pemakaian satu kanal frekuensi untuk 4 hingga
6 program.
Siaran
televisi digital terestrial dapat diterima oleh sistem penerimaan televisi
analog dan sistem penerimaan televisi bergerak. TV Digital memiliki fungsi
interaktif dimana pengguna dapat menggunakannya seperti internet. Sistem siaran
televisi digital DVB mempunyai kemampuan untuk memanfaatkan jalur kembali
antara IRD dan operator melalui modul Sistem Manajemen Subscriber. Jalur
tersebut memerlukan modem,jaringan telepon atau jalur kembali televisi kabel,
maupun satelit untuk mengirimkan sinyal balik kepada pengguna seperti pada
aplikasi penghitungan suara melalui televisi. Ada beberapa spesifikasi yang
telah dikembangkan, antara lain melalui jaringan telepon tetap (PSTN) dan
jaringan berlayanan digital terintegrasi (ISDN). Selain itu juga dikembangkan
solusi komprehensif untuk interaksi melalui jaringan CATV, HFC, sistem
terestrial, SMATV, LDMS, VSAT, DECT, dan GSM.
v Sistem Penyiaran TV Digital
Stasiun TV penyiaran baik TVRI maupun TV swasta nasional
memanfaatkan sistem teknologi penyiaran dengan teknologi digital khususnya pada
sistem perangkat studio untuk memproduksi program, mengedit, merekam dan
menyimpan data. Pengiriman sinyal gambar, suara dan data menggunakan sistem
transmisi digital dengan menggunakan satelit yang dimanfaatkan sebagai siaran
TV-Berlangganan. Sistem transmisi digital melalui satelit ini menggunakan
standar yang disebut DVB-T (Digital Video Broadcasting Satellite).
TV digital mempunyai tiga sistem standart yaitu:
- DVT (Digital Television), sistem yang berlaku di
Amerika;
- DVB-T (Digital Video Broadcasting Terrestrial), sistem
yang berlaku di Eropa; dan
- ISDB-T (Integrated Services Digital Broadcasting
Terrestrial), sistem yang berlaku di Jepang.
Dari hasil uji coba siaran digital TV, teknologi DVB-T
mampu memultipleks beberapa program sekaligus. Secara teknik pita spectrum
frekuensi radio yang digunakan untuk televisi analog dapat digunakan untuk
penyiaran televisi digital sehingga tidak perlu ada perubahan pita alokasi baik
VHF maupun UHF (Ultra High Frequency). Sedangkan lebar pita frekuensi yang
digunakan untuk analog dan digital berbanding 1 : 6 artinya bila pada teknologi
analog memerlukan pita selebar 8 MHz untuk satu kanal transmisi, maka pada
teknologi digital dengan lebar pita frekuensi yang sama dengan teknik multiplek
dapat digunakan untuk memancarkan sebanyak 6 hingga 8 kanal transmisi sekaligus
dengan program yang berbeda tentunya, dengan kualitas cukup baik. Di samping
itu, penambahan varian DVB-H (handheld) mampu menyediakan tambahan sampai enam
program siaran lagi, khususnya untuk penerimaan bergerak (mobile). Hal ini
sangat memungkinkan bagi penambahan siaran-siaran TV baru.
Selain ditunjang oleh teknologi penerima yang mampu
beradaptasi dengan lingkungan yang berubah, TV digital perlu ditunjang oleh
sejumlah pemancar yang membentuk jaringan berfrekuensi sama atau SFN (single
frequency network) sehingga daerah cakupan dapat diperluas. Produksi peralatan
pengolah gambar yang baru (cable, satellite, VCR, DVD players, camcorders,
video games consoles) adalah dengan menggunakan format digital. Untuk itu
supaya pesawat analog masih dapat dipakai diperlukan inverter (set top box)
yang dapat merubah signal digital ke analog sehingga dapat dilihat dengan
menggunakan TV receiver biasa
Sistem penyiaran TV Digital adalah penggunaan aplikasi
teknologi digital pada sistem penyiaran TV yang dikembangkan di pertengahan
tahun 90 an dan diujicobakan pada tahun 2000. Pada awal pengoperasian sistem
digital ini umumnya dilakukan siaran TV secara Simulcast atau siaran bersama
dengan siaran analog sebagai masa transisi. Sekaligus ujicoba sistem tersebut
sampai mendapatkan hasil penerapan siaran TV Digital yang paling ekonomis
sesuai dengan kebutuhan dari negara yang mengoperasikan.
v Cara Kerja Televisi Digital
Pada dasarnya cara kerja
penyiaran digital tak jauh berbeda dengan analog. Stasiun pemancar televisi
digital juga menggunakan gelombang VHF/UHF, hanya saja isi siarannya dalam
bentuk digital.
Penyiaran dalam bentuk
digital memiliki banyak keuntungan. Isi siaran dapat dikirim dengan baik
meskipun lalulintas gelombangnya sangat padat. Dalam penyiaran analog, semakin
jauh kita dari stasiun pemancar, sinyal yang kita terima semakin melemah.
Akibatnya, gambar yang muncul [ada televise orang yang tinggal jauh dari
pemancar menjadi jelek.
Dalam penyiaran digital,
sinyal akan tetap menyampaikan gambar yang jernih sampai batas gambar itu
hilang. Jadi, dalam siaran digital, kita tidak akan menemui gambar yang
bergoyang-goyangatau tidak jelas. Kita hanya akan menerima gambar yang jernih
atau tidak ada gambar sama sekali.
Televisi Analog
v Televisi analog
Televisi analog mengkodekan
informasi gambar dengan memvariasikan voltase dan/atau frekuensi dari sinyal.
Seluruh sistem sebelum Televisi digital dapat dimasukan ke analog. Sistem yang
dipergunakan dalam televisi analog NTSC (national Television System Committee),
PAL, dan SECAM. Kelebihan signal digital dibanding analog adalah ketahanannya
terhadap gangguan (noise) dan kemudahannya untuk diperbaiki (recovery) di
penerima dengan kode koreksi error (error correction code ).
v Cara Kerja Televisi Analog
apa yang salah dengan
sistem pemancaran analog? Bukankah pesawat televisi semacam itu dapat menerima
pemancaran lewat kabel, satelit, bisa menampilkan gambar dari DVD dan
camcoders? Ternyata masalah utama dari pesawat televisi analog adalah ketajaman
gambarnya. Seperti diketahui, ketajaman gambar pada televisi, tergantung
kerapatan titik gambar per-sentimeter persegi, yang disebut pixel. Sat ini,
pesawat televisi analog, maksimal memiliki kerapatan gambar 512 kali 400 pixel.
Bandingkan dengan monitor komputer paling jelek mutunya, atau display
handphone, yang memiliki kerapatan gambar 640 kali 480 pixel. Sementara monitor
komputer yang mutunya bagus, memiliki kejernihan gambar minimal 10 kali lipat
dari televisi analog terbaik. Kamera saku digital, kini sudah merambah mutu
gambar antara empat sampai lima Mega-pixel. Bagi mereka yang terbiasa
menggunakan komputer dengan layar monitor cukup baik, menonton televisi analog
ibaratnya melihat gambar-gambar yang baur dan tidak jernih. Di kalangan pertelevisian,
pesawat televisi analog disebut memiliki format resolusi standar.
Televise analog adalah
televise yang umum kita jumpai saat ini. Disebut analog karena data (isi
siarannya) berbentuk analog. Siaran analog dilakukan dengan cara merekam gambar
dan suara, lalu mengubahnya menjadi gelombang, kemudian gelombang ini
dipancarkan oleh stasiun televisi.gelombang ini diterima antenna televisi
dirumah kita. Mesin televise kita lalu mengubah gelombang itu menjadi gambar
dan suara yang kita tonton.
Jenis gelombang yang
dipancarkan stasiun televisi adalah VHF/UHF. Dalam siaran analog, gelombang ini
dipancarkan terus-menerus setiap detik. Jumlah gelombang yang dipancarkan
setiap detik menunjukkan kecepatan gelombang itu. Jika dalam satu detik
dipancarkan gelombang sebanyak sepuluh kali, maka kecepatan gelombangnya 10
Hertz. Hertz (Hz) adalah satuan ukur kecepatan gelombang.
v Transisi TV analog ke TV
digital
Transisi
dari pesawat televisi analog menjadi pesawat televisi digital membutuhkan
penggantian perangkat pemancar televisi dan penerima siaran televisi. Agar
dapat menerima penyiaran digital, diperlukan pesawat TV digital. Namun, jika
ingin tetap menggunakan pesawat televisi analog, penyiaran digital dapat
ditangkap dengan alat tambahan yang disebut kotak konverter (Set Top Box).
Ketika menggunakan pesawat televisi analog, sinyal penyiaran digital akan
dirubah oleh kotak konverter menjadi sinyal analog. Dengan demikian pengguna
pesawat televisi analog tetap dapat menikmati siaran televisi digital. Pengguna
televisi analog tetap dapat menggunakan siaran analog dan secara perlahan-lahan
beralih ke teknologi siaran digital tanpa terputus layanan siaran yang
digunakan selama ini.
Proses
transisi yang berjalan secara perlahan dapat meminimalkan risiko kerugian
terutama yang dihadapi oleh operator televisi dan masyarakat. Resiko tersebut
antara lain berupa informasi mengenai program siaran dan perangkat tambahan
yang harus dipasang tersebut. Sebelum masyarakat mampu mengganti televisi
analognya menjadi televisi digital, masyarakat menerima siaran analog dari
pemancar televisi yang menyiarkan siaran televisi digital.
Bagi
operator televisi, risiko kerugian berasal dari biaya membangun infrastruktur
televisi digital terestrial yang relatif jauh lebih mahal dibandingkan dengan
membangun infrastruktur televisi analog. Operator televisi dapat memanfaatkan
infrastruktur penyiaran yang telah dibangunnya selama ini seperti studio,
bangunan, sumber daya manusia, dan lain sebagainya apabila operator televisi
dapat menerapkan pola kerja dengan calon penyelenggara TV digital. Penerapan
pola kerja dengan calon penyelenggara digital pada akhirnya menyebabkan
operator televisi tidak dihadapkan pada risiko yang berlebihan. Di kemudian
hari, penyelenggara penyiaran televisi digital dapat dibedakan ke dalam dua
posisi yaitu menjadi penyedia jaringan, serta penyedia isi.
Perpindahan
dari sinyal analog ke sinyal digital sudah dilakukan di sejumlah negara maju
beberapa tahun yang lalu. Di Jerman, proyek penggunaan sinyal digital dimulai
sejak tahun 2003 di Berlin dan tahun 2005 di Muenchen. Sementara Perancis dan
Inggris telah menghentikan secara total siaran televisi analog mereka. Di
Amerika Serikat, melalui Undang-Undang Pengurangan Defisit tahun 2005 yang
telah disetujui oleh Kongres, setiap stasiun televisi lokal yang berdaya penuh
diminta untuk mematikan saluran analog mereka pada tanggal 17 Februari 2009 dan
meneruskan siaran dalam bentuk digital secara eksklusif. Sementara Jepang akan
memulai siaran televisi digital secara massal pada tahun 2011.
Perbedaan TV analog dengan
TV digital.
# Perbedaan TV Digital dan
TV Analog hanyalah perbedaan pada sistim tranmisi pancarannya, TV kebanyakan di
Indonesia, masih menggunakan sistim analog dengan cara memodulasikannya
langsung pada Frekwensi Carrier, Sedangkan pada Pada sistim digital, data
gambar atau suara dikodekan dalam mode digital (diskret) baru di pancarkan.
Sebagai ilustrasi, Jika 'dahulu' kita menonton film lewat VCR, Video yang pakai
pita, itu adalah analog, tapi kita sekarang dalam format digital MPEG, atau
kalau kalau kita mendengarkan musik dengan pita kaset, itu adalah Analog, tapi
jika kita mendengarkan MP3, itu adalah Digital.
Seorang awam membedakannya adalah dengan mudah, Jika TV analog signalnya
lemah (semisal problem pada antena) maka gambar yang diterima akan banyak
'semut' tetapi jika TV Digital yang terjadiadalah bukan 'semut' melainkan
gambar yang lengket seperti kalau kita menonton VCD yang rusak. kualitas
Digital jadi lebih bagus, karena dengan Format digital banya hal dipermudah.
Seperti kalau dulu CD-A (CD audio analog) atau laser disk jadul satu keping
hanya mampu memutar lagu selama 60 menit atau sekitar 6 lagu, maka dengan mode
digital sekarang pada CD yabf sama bisa disimpan lagu digital format MP3 hingga
ratusan lagu.kalau pada TV analog satu pemancar dengan pemancar lainnya harus
dengan frekwensi berbeda, maka dengan mode Digital, satu frekwensi bisa
memancarkan banyak siaran TV. Siaran TV Satelit Dulu memakai Analog. Sekarang
sudah banyak yang digital. Tidak semua TV satelit memakai sistim Digital. Di
beberapa satelit Arab banyak yang memakai mode analog.
·
Tahan
perubahan lingkungan
Siaran televisi digital
terestrial memiliki ketahanan terhadap perubahan lingkungan yang terjadi karena
pergerakan pesawat penerima (untuk penerimaan mobile TV), misalnya di kendaraan
yang bergerak, sehingga tidak terjadi gambar bergoyang atau berubah-ubah
kualitasnya seperti pada TV analog saat ini.
·
Tahan
terhadap efek interferensi
Teknologi ini punya
ketahanan terhadap efek interferensi, derau dan fading, serta kemudahannya
untuk dilakukan proses perbaikan (recovery) terhadap sinyal yang rusak akibat
proses pengiriman atau transmisi sinyal. Perbaikan akan dilakukan di bagian
penerima dengan suatu kode koreksi error (error correction code) tertentu.
·
Efisiensi
spektrum/kanal
Teknologi siaran televisi
digital lebih efisien dalam pemanfaatan spektrum dibanding siaran televisi
analog. Secara teknis, pita spektrum frekuensi radio yang digunakan untuk
siaran televisi analog dapat digunakan untuk penyiaran televisi digital
sehingga tidak perlu ada perubahan pita alokasi baik VHF maupun UHF. Sedangkan
lebar pita frekuensi yang digunakan untuk analog dan digital berbanding 1 : 6,
artinya bila pada teknologi analog memerlukan pita selebar 8 MHz untuk satu
kanal transmisi, maka pada teknologi digital untuk lebar pita frekuensi yang
sama dengan teknik multiplex dapat digunakan untuk memancarkan sebanyak 6
hingga 8 kanal transmisi sekaligus dengan program yang berbeda tentunya. Dalam
bahasa yang sederhana, ini berarti dalam satu frekuensi dapat digunakan untuk
enam siaran yang berbeda. Ini jauh lebih efisien dibanding dengan siaran analog
dimana satu frekuensi hanya untuk satu siaran saja. Dengan keunggulan ini,
keterbatasan jumlah kanal dalam spektrum frekuensi siaran yang menjadi
penghambat perkembangan industri pertelevisian di era analog dapat diatasi dan
memungkinkan munculnya stasiun-stasiun televisi baru yang lebih banyak dengan
program yang lebih bervariasi.
·
TV
Digital dapat mengirim data 2 kali atau lebih banyak data dibandingkan TV
Analog yang berarti dengan bandwidth yang sama, TV Digital bisa menerima
kualitas gambar yang lebih baik dibandingkan Analog, misal kita bisa menikmati
siaran dalam format HDTV.
· Karena kemampuan siaran
digital mengirim berbagai macam data dan lebih padat maka kita juga bisa
menikmati layanan suara stereo bahkan sampai tata suara surround 5.1 atau kalau
standarnya, suara yang kita dapatkan bisa sama dengan kualitas suara yang
dikeluarkan oleh CD.
·
Sinyal
yang dihasilkan
Sinyal analog yang dinamakan demikian karena
mereka menghasilkan sinyal yang analog dengan sumber. Kamera menangkap gambar
dan mengubahnya menjadi piksel, yang kemudian dirakit kembali dalam urutan yang
tepat mereka di TV Anda. Sinyal analog bekerja sama dengan baik selama beberapa
dekade, tetapi memiliki sejumlah masalah. Ini memakan banyak ruang pada
bandwidth untuk pemula (yang mengapa TV yang lebih tua terbatas untuk 12
saluran VHF dan UHF saluran 70). Sinyal analog juga kurangnya kepadatan yang
diperlukan untuk menghasilkan gambar yang benar-benar tajam. Tidak seperti
sinyal analog, sinyal digital tidak analog dengan sumber. Sebaliknya, mereka
menerjemahkan suara dan informasi gambar ke dalam data-pulsa dengan panjang
yang sama dan frekuensi, yang kemudian dapat ditularkan sebagai kode biner. Itu
berarti mereka mengambil banyak kurang ruang pada bandwidth ketika mereka
siaran, yang memungkinkan mereka untuk memegang informasi lebih banyak. Karena
sinyal TV digital sangat kecil, mereka membutuhkan bandwidth yang kurang dan
dapat memungkinkan sejumlah saluran jauh lebih besar. Sinyal digital juga
memfasilitasi televisi definisi tinggi (HDTV), di mana suara dan gambar muncul
dengan kejernihan yang mengesankan. Bandwidth dibebaskan dengan menggunakan
sinyal digital menciptakan lebih banyak ruang dalam gelombang udara publik
untuk usaha-usaha lainnya, seperti sinyal layanan darurat dan layanan broadband
nirkabel.
Dampak Adanya Televisi
Digital
Nilai positif dari adanya televise digital
v Televisi digital
memungkinkan tersedianya layanan siaran tambahan yang bersifat interaktif
seperti halnya internet.
v Kualitas audiovisual yang
lebih baik bagaimanapun, menjadi keunggulan televisi ini, sehingga penonton
dapat menikmati layar kaca seperti laiknya layar lebar.
v Penggabungan televisi dan
internet juga akan membuka kemungkinan untuk pelayanan-pelayanan baru, seperti:
penyediaan link antara program dokumenter dengan ensiklopedia online; akses
kepada arsip digital untuk memperoleh informasi-informasi tambahan bagi
program-program berita dan current affairs; membuat link antara program drama
atau komedi dengan situs-situs internet yang dibuat oleh para penggemar (fans)
program-program tersebut. Dimungkinkan pula streaming video yang lazim di dunia
internet, termasuk film on demand dan siaran langsung melalui internet
(Hastjarjo, 2007).
v Di samping itu, sistem
digital memungkinkan diversifikasi saluran sehingga menjadi saluran multikanal.
Konon, satu kanal analog dapat dipecah dan diisi oleh 4-6 saluran televisi
digital.
Penghambat televise digital
;
v dibutuhkannya pesawat
televisi model baru yang memiliki fasilitas untuk men-decode sinyal digital.
Hal ini membuat perusahaan-perusahaan televisi siaran ragu untuk mulai
melakukan siaran televisi digital, dengan pertimbangan: (1) dibutuhkan
pembangunan infrastruktur baru untuk memproduksi dan menyiarkan program
televisi digital; (2) harga pesawat televisi digital masih belum terjangkau
oleh sebagian terbesar khalayak penonton televisi, sementara itu untuk
menyiarkan program ganda (analog dan digital) akan terlalu mahal.
.
Dengan berkembangnya jaman,
sekarang ini teknologi berkembang sangat pesat sekali. Seperti yang sekarang
ini sedang di lakukan yaitu perpindahan televisi analog menjadi televisi
digital. Dan pada saat pemerintah memulai siaran digital yang berbasis
terrestrial perlu dilakukan proses transisi migrasi dengan meminimalkan risiko
kerugian khusus yang dihadapi baik oleh operator TV (Broadcasters) maupun
masyarakat. Resiko kerugian khusus yang dimaksud adalah informasi program
ataupun perangkat tambahan yang harus dipasang.
Bila perubahan diputuskan
untuk dilakukan maka perlu dilaksanakan melalui masa ‘Simulcast’, yaitu masa
dimana sebelum masyarakat mampu membeli pesawat penerima digital dan pesawat
penerima analog yang dimilikinya harus tetap dapat dipakai menerima siaran
analog dari pemancar TV yang menyiarkan siaran TV Digital, dengan adanya
televisi digital,televisi analog pasti akan ditinggalkan dan orang akan
berbondong-bondong untuk membeli televisi digital yang lebih bagus dan lebih
canggih. Serta ada Kelebihan informasi digital adalah kompresi dan kemudahan
utnuk ditranfer ke media elektronik lain. Kelebihan ini dimanfaatkan secara
optimal oleh teknologi internet, misalnya dengan menaruhnya ke suatu website
atau umumnya disebut dengan meng – upload. Cara seperti ini disebut online di
dunia cyber. System tranmisi digital menyediakan:
1. Tingkat pengiriman
informasi yang lebih tinggi,
2. Perpindahan informasi
tang lebih banyak,
3. Peningkatan ekonomi,
4. Tingkat kesalahan yang
lebih rendah dibangdingkan system analog.
Bagaimana Pendapat Anda Tentang Prospek Masa Depan
Penyiaran Televisi di Indonesia Dikaitkan Dengan Adanya Digitalisasi System
Siaran Televisi
·
Perkembangan
TV digital di Indonesia
Industri
televisi Indonesia sudah dimulai sejak tahun 1962 dimulai dengan pengiriman
teleks dari Presiden Soekarno yang berada di Wina kepada Menteri Penerangan
Maladi pada 23 Oktober 1961. Presiden Soekarno memerintah Maladi untuk segera
mempersiapkan proyek televisi. TVRI adalah stasiun televisi pertama yang
berdiri di Indonesia.
TVRI
melakukan siaran percobaan pada 17 Agustus 1962 dengan pemancar cadangan
berkekuatan 100 watt. TVRI mengudara untuk pertama kali tanggal 24 Agustus 1962
dalam acara siaran langsung upacara pembukaan Asian Games IV dari Stadion Utama
Gelora Bung Karno. Sejak saat itu dirintis pembangunan stasiun televisi daerah
pada akhir tahun 1964. Kemudian dibentuk stasiun-stasiun produksi keliling
(SPK) tahun 1977 sebagai bagian produksi dan merekam paket acara untuk dikirim
dan disiarkan melalui stasiun pusat TVRI Jakarta di beberapa ibu kota provinsi.
Konsep SPK diadopsi oleh beberapa stasiun televisi swasta berjaringan tahun 1990-an.
Televisi swasta menggunakan kanal frekuensi ultra tinggi (UHF) dengan lebar
pita untuk satu program siaran sebesar 8 MHz.
Migrasi
dari sistem penyiaran analog ke digital menjadi tuntutan teknologi secara
internasional. Aplikasi teknologi digital pada sistem penyiaran televisi mulai
dikembangkan di pertengahan tahun 1990-an. Uji coba penyiaran televisi digital
dilakukan pada tahun 2000 dengan pengoperasian sistem digital dilakukan
bersamaan dengan siaran analog sebagai masa transisi.
Tahun
2006, beberapa pelaku bisnis pertelevisian Indonesia melakukan uji coba siaran
televisi digital. PT Super Save Elektronik melakukan uji coba siaran digital
bulan April-Mei 2006 di saluran 27 UHF dengan format DMB-T (Cina) sementara
TVRI/RCTI melakukan uji coba siaran digital bulan Juli-Oktober 2006 di saluran
34 UHF dengan format DVB-T. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika
Nomor:07/P/M.KOMINFO/3/2007 tanggal 21 Maret 2007 tentang Standar Penyiaran
Digital Terestrial untuk Televisi Tidak Bergerak di Indonesia menetapkan DVB-T
ditetapkan sebagai standar penyiaran televisi digital teresterial tidak
bergerak.
Stasiun-stasiun
televisi swasta memanfaatkan teknologi digital pada sistem penyiaran terutama
pada sistem perangkat studio untuk memproduksi, mengedit, merekam, dan
menyimpan program. Sementara itu penyelenggara televisi digital memanfaatkan
spektrum dalam jumlah besar, dimana menggunakan lebih dari satu kanal
transmisi. Penyelenggara berperan sebagai operator jaringan dengan
mentransmisikan program stasiun televisi lain secara terestrial menjadi satu
paket layanan. Pengiriman sinyal gambar, suara, dan data oleh penyelenggara
televisi digital memakai sistem transmisi digital dengan satelit atau yang
biasa disebut sebagai siaran TV berlangganan.
TVRI
telah melakukan peluncuran siaran televisi digital pertama kali di Indonesia
pada 13 Agustus 2008. Pelaksanaan dalam skala yang lebih luas dan melibatkan
televisi swasta dapat dilakukan di bulan Maret 2009 dan dipancarkan dari salah
satu menara pemancar televisi di Joglo, Jakarta Barat. Sistem penyiaran digital
di Indonesia mengadopsi sistem penyiaran video digital standar internasional
(DVB) yang dikompresi memakai MPEG-2 dan dipancarkan secara terestrial (DVB-T)
pada kanal UHF (di Jakarta di kanal 40, 42, 44 dan 46 UHF) serta berkonsep
gratis untuk mengudara. Penerimaan sinyal digital mengharuskan pengguna di
rumah untuk menambah kotak konverter hingga pada nantinya berlangsung produksi
massal TV digital yang bisa menangkap siaran DVB-T tanpa perlu tambahan kotak konverter.
Digitalisasi sinyal telah
memungkinkan kompresi konten siaran ke dalam spectrum frekuensi yang tersedia.
Kelangkaan spectrum tidak lagi merupakan hambatan bagi operator baru masuk
pasar penyiaran. Digitalisasi juga memungkinkan karakteristik-karakteristik
konten siaran yang menjadi perhatian penonton televisi - seperti kualitas
gambar dan suara, ketepatan waktu, kaya tampilan multimedia - tergantung pada
platform (satelit, kabel, terrestrial, computer) yang mentransmisikan konten
siaran. Konten siaran yang ditransmisikan lewat platform satelit akan bersaing
dengan operator penyiaran platform kabel. Konten siaran yang sama dapat
ditransmisikan ke pesawat penerima televisi, ke computer, dan berangsur-angsur
ke telepon genggam. Situs internet mampu menyediakan konten multi-media yang
berangsur-angsur akan serupa dengan konten siaran yang disediakan oleh
penyiaran tradisional (radio dan televisi), dan bahkan banyak operator
menggunakan situswebnya sebagai portal mereka untuk menarik penonton dan memberikan
mereka tambahan sumber-sumber informasi lain.
Kemajuan era teknologi
membuat kita merasakan nikmatnya hidup. Kemudahan serta kesenangan akibat
hadirnya teknologi yang semakin berkembang membuat kita akan semakin
termanjakan dalam segala aspek bidang kehidupan kita. Tak ada lagi istilah
untuk ketertinggalan , karena semua nya akan terwakili dengan implementasi
wujud kemajuan teknologi. Saat ini perkembangan teknologi
semakin berkembang dan semakin maju. Hal ini tentu memudahkan kita sebagai individu
agar bisa menikmati era dimana semua peralatan kebutuhan sudah canggih. Semua
alat yang tadinya bersifat analog, sekarang berubah menjadi serba digital. Hal
yang paling awal dan sering ditemui mungkin seperti jam tangan, kamera, HP dan
beberapa tahun terakhir sudah mulai berkembang teknologi TV digital yang mana
memiliki hasil siaran dengan kualitas gambar dan warna yang jauh lebih baik
dari yang dihasilkan televisi analog serta menghasilkan pengiriman gambar yang
jernih dan stabil meski alat penerima siaran berada dalam kondisi bergerak
dengan kecepatan tinggi. Dengan adanya teknologi TV digital, masyarakat /
konsumen dimanjakan dengan perkembangan teknologi ini. Banyak kelebihan yang
tidak dimiliki TV analog, yang saat ini mungkin masih ada beberapa masyarakat
yang menggunakannya.
Tidak hanya TV digital,
sistem siaran pun saat ini sudah beralih ke penyiaran sistem digital. Siaran
televisi digital atau penyiaran digital sendiri merupakan jenis siaran televisi
yang menggunakan modulasi digital dan sistem kompresi untuk menyiarkan sinyal
video, audio, dan data ke pesawat televisi. Penyiaran TV Digital secara umum
didefinisikan sebagai pengambilan atau penyimpanan gambar dan suara secara
digital, yang pemrosesannya (encoding-multiplexing) termasuk proses transmisi,
dilakukan secara digital dan kemudian setelah melalui proses pengiriman melalui
udara, proses penerimaan (receiving) pada pesawat penerima, baik penerimaan
tetap di rumah (fixed reception) maupun yang bergerak (mobile reception)
dilakukan secara digital pula.
Implementasi teknologi
penyiaran TV digital bukanlah rekayasa dan upaya yang mengharuskan masyarakat
menggunakan pesawat tv baru yang digital. Upaya ini lebih terfokus pada sinyal
digital yang ditransmisikan dari pemancar, sehingga pesawat TV yang ada pada
pemirsa cukup ditambahi perangkat set-top box agar dapat menerima sinyal TV
Digital. Dari segi layanan, sistem penyiaran TV digital mampu meningkatkan
kualitas siaran, disamping memberikan lebih banyak pilihan program kepada
pemirsa, serta memungkinkan konvergensi dengan berbagai media seperti media
internet, media telepon selular, dan PDA. Pada sisi aplikasi, siaran TV digital
memberikan fleksibilitas aplikasi interaktif sehingga akan sangat mendukung
kebutuhan interaksi antara penyedia jasa program dengan penggunanya, baik yang
bersifat komersial, seperti interactive advertisement, tele-news, tele-banking,
tele-shopping, maupun nonkomersial seperti tele-education, tele-working dan
tele-traffic.
Era digitalisasi
penyiaran di Indonesia sudah pasti akan datang, cepat atau lambat, suka atau
tidak suka, siap atau tidak siap kita menghadapinya, karena begitulah
kecenderungan global tentang dunia penyiaran. Inovasi teknologi penyiaran
adalah suatu hal yang tidak terelakkan di masa depan. Kita diperhadapkan dengan
kata-kata kunci baru tatkala mempelajari digitalisasi penyiaran, seperti
terminology teknologi kompressi MPEG (Moving Picture Experts Group) 2 dan 4,
multiplex, simulcast, dan masih banyak yang lain. Namun digitalisasi penyiaran
tidak hanya persoalan teknologi semata, tetapi juga aspek ekonomi, sosial,
hukum, dan juga politik, sehingga persoalan digitalisasi penyiaran di Indonesia
perlu dilihat secara komprehensif. Di sana ada persoalan state interests,
corporation interests, consumers interests, juga public interests yang saling
berinteraksi.
Pemerintah Indonesia
telah menentukan migrasi sistem penyiaran terrestrial dari analog ke digital,
melalui Peraturan Menteri Komunikasi dan Infomatika RI Nomor
07/P/M.Kominfo/3/2007 tertanggal 21 Maret 2007 Tentang Standar Penyiaran
Digital Terrestrial untuk Televisi Tidak Bergerak di Indonesia, ditetapkan
standar penyiaran digital terrestrial untuk televisi tidak bergerak di
Indonesia yaitu Digital Video Broadcasting Terrestrial (DVB-T). Tatkala
pemerintah memutuskan standar penyiaran digital DVB-T berlaku di Indonesia, ini
berarti kita sudah masuk dalam sebuah mazhab sistem penyiaran digital Eropa,
dan tidak ikut mazhab Amerika Serikat ATSC (Advanced Television Systems
Committee). Keputusan ini mempunyai implikasi ekonomi-politik dan bisnis
penyiaran Indonesia masuk ke dalam pasar global penyiaran, baik dari segi
piranti atau peralatan teknologi penyiaran maupun program isi siaran. Sistem
penyiaran TV digital DVB dikembangkan berdasarkan latar belakang pentingnya
sistem penyiaran yang bersifat terbuka (open system) yang ditunjang oleh
kemampuan interoperability, fleksibilitas dan aspek komersial. Sebagai suatu
open system, maka standar DVB dapat dimanfaatkan oleh para vendor untuk
mengembangkan berbagai layanan inovatif dan jasa nilai tambah yang saling kompatibel
dengan perangkat DVB dari vendor lain.
Selain itu, standar DVB
memungkinkan terjadinya cross-medium interoperability yang memungkinkan
berbagai media delivery yang berbeda dapat saling berinteroperasi. Salah satu
aspek dari interoperability adalah bahwa semua perangkat yang DVB-compliant
dari vendor yang berbeda dapat dengan mudah saling terhubung dalam satu mata
rantai penyiaran. (Lihat Harry Budianto dkk “Sistem TV Digital dan Prospeknya
di Indonesia’ Multikom Indo Persada, 2007).
Namun bagaimana kesiapan
para pemangku kepentingan penyiaran di Indonesia menghadapi era digitalisasi
penyiaran, padahal banyak sekali pekerjaan rumah regulator penyiaran yang belum
selesai, manakah yang harus jadi prioritas? Sebutlah Sistem Siaran Jaringan
(SSB) yang seharusnya mulai berlaku 28 Desember 2007, ditunda sampai 2009.
Sekarang sudah sampai dimana pelaksanaan SSB bagi penyiaran di Indonesia.
Bagaimana pemetaan usaha penyiaran radio dan televisi? Bagaimana wilayah
layanan penyiaran radio dan televisi? Bagaimana sebenarnya Roadmap dunia
Penyiaran dan Telekomunikasi Indonesia? Migrasi dari sistem analog ke sistem
digital akan ditempatkan dalam roadmap yang seperti apa? Bagaimana kepentingan
public ditempatkan pada posisi roadmap tersebut, di tengah-tengah state interest,
corporation interest dan consumer interest? Bagaimana kesiapan pembiayaan
migrasi ke digital? Siapa yang harus membayar? Social and political cost-nya
bagaimana? Siapa korban dan siapa peraih keuntungan dalam migrasi analog ke
digital?
Tampaknya perdebatan
public di Indonesia tentang proses migrasi ke sistem digital dunia penyiaran
belum begitu intens, dan masih terbatas pada elite-elite dunia penyiaran,
terutama regulator, operator dan vendor yang akan berbisnis hardware equipment
dan program siaran dunia. Barangkali banyak pihak dan elemen-elemen masyarakat
tidak tahu, merasa tidak perlu, tidak tertarik, dan menilai mahluk seperti
apakah sebenarnya digitalisasi penyiaran di Indonesia, di tengah kenikmatan
instan menonton dan mendengar program-program siaran radio dan televisi di
tanah air saat ini. Diskusinya masih berkutat pada perebutan kanal yang
tersisa, dan isi siaran yang penuh dengan mistik, infotainment, sinetron,
kekerasan, kebanci-bancian, belum pada “revolusi digital televisi” yang akan mengubah
lanskap penyiaran Indonesia di masa depan.
Karena masih langkanya
perdebatan public tentang sistem digital penyiaran Indonesia, saya menyambut
gembira langkah antisipatif Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Jawa Tengah dalam
menggagas seminar ini. Makalah ini adalah catataan kritis terhadap
langkah-langkah migrasi dari analog ke digital di Indonesia yang masih gelap.
Tentu saja kita merasa gembira karena seminar ini merupakan forum dimana kita
memang sedang belajar bersama tentang digitalisasi penyiaran.Pemerintah sudah
menetapkan standar DVB-T sebagai standar yang dipakai untuk TV digital di
Indonesia dengan konsep pemancaran yang masih sama yaitu berbasis terestrial di
kanal UHF dan free-to-air. Untuk bisa menerima siaran digital, diperlukan alat
tambahan bernama STB (Set-Top-Box) alias dekoder yang dihubungkan ke antena UHF
biasa. Nantinya, setiap televisi yang dijual di tanah air sudah mampu menangkap
siaran DVB-T tanpa bantuan dekoder lagi. Dalam konsep pemerintah, nantinya
sebuah konsep penyiaran digital akan terbagi dalam banyak bagian yang terlibat,
yaitu :
penyedia konten
(seperti PH)
penyelenggara program
siaran (stasiun TV)
penyelenggara
multipleksing
penyelenggara transmisi
(yang memiliki menara)
Namun transisi dari
jperpindahan TV Analog ke TV Digital tidak mudah, banyaknya tanggapan dari
masyarakat atau pengguna yang berbeda-beda. Transisi dari pesawat televisi
analog menjadi pesawat televisi digital membutuhkan penggantian perangkat
pemancar televisi dan penerima siaran televisi. Agar dapat menerima penyiaran
digital, diperlukan pesawat TV digital. Namun, jika ingin tetap menggunakan
pesawat televisi analog, penyiaran digital dapat ditangkap dengan alat tambahan
yang disebut kotak konverter (Set Top Box). Ketika menggunakan pesawat televisi
analog, sinyal penyiaran digital akan dirubah oleh kotak konverter menjadi
sinyal analog. Dengan demikian pengguna pesawat televisi analog tetap dapat
menikmati siaran televisi digital. Pengguna televisi analog tetap dapat
menggunakan siaran analog dan secara perlahan-lahan beralih ke teknologi siaran
digital tanpa terputus layanan siaran yang digunakan selama ini.
Proses transisi yang
berjalan secara perlahan dapat meminimalkan risiko kerugian terutama yang
dihadapi oleh operator televisi dan masyarakat. Resiko tersebut antara lain
berupa informasi mengenai program siaran dan perangkat tambahan yang harus
dipasang tersebut. Sebelum masyarakat mampu mengganti televisi analognya
menjadi televisi digital, masyarakat menerima siaran analog dari pemancar
televisi yang menyiarkan siaran televisi digital.
Bagi operator televisi,
risiko kerugian berasal dari biaya membangun infrastruktur televisi digital
terestrial yang relatif jauh lebih mahal dibandingkan dengan membangun
infrastruktur televisi analog. Operator televisi dapat memanfaatkan
infrastruktur penyiaran yang telah dibangunnya selama ini seperti studio,
bangunan, sumber daya manusia, dan lain sebagainya apabila operator televisi
dapat menerapkan pola kerja dengan calon penyelenggara TV digital. Penerapan pola
kerja dengan calon penyelenggara digital pada akhirnya menyebabkan operator
televisi tidak dihadapkan pada risiko yang berlebihan. Di kemudian hari,
penyelenggara penyiaran televisi digital dapat dibedakan ke dalam dua posisi
yaitu menjadi penyedia jaringan, serta penyedia isi.
Kelebihan TV Digital
Televisi digital sudah
bukan barang baru untuk saat ini. Walaupun begitu televisi digital bukan
berarti pesawat TV-nya yang Digital, melainkan lebih kepada sinyal yang
dikirimkan adalah signal digital atau mungkin yang lebih tepat adalah siaran
digital (Digital Broadcasting). Kelebihan signal digital dibanding analog
adalah ketahanannya terhadap noise dan kemudahannya untuk diperbaiki (recovery)
di penerima dengan kode koreksi error (error correction code).
Keuntungan
transmisi digital lainnya adalah less bandwidth (atau high efficiency
bandwidth) karena interference digital channel lebih rendah, sehingga beberapa
channel bisa dikemas atau “dipadatkan” dan dihemat. Hal ini menjadi sangat
mungkin karena broadcasting TV Digital menggunakan sistem OFDM (Orthogonal
Frequency Division Multiplexing) yang tangguh dalam mengatasi efek lintas jamak
(multipath fading). Kemudian keuntungan lainnya adalah bahwa sinyal digital
bisa dioperasikan dengan daya yang rendah (less power). Itulah beberapa hal
yang sangat mengutungkan dalam TV digital. Keuntungan tersebut menghasilkan
kualitas gambar dan warna yang sangat jauh lebih bagus daripada TV analog.
Dampak yang Timbul Akibat
Adanya System Siaran Digital Di Indonesia
Indonesia telah
menapak ke pintu teknologi penyiaran televisi digital. Peristiwa itu berupa
soft launching siaran TV digital oleh TVRI. Langkah ini jelas akan menjadi
lokomotif bagi perubahan yang bakal cukup radikal di bidang penyiaran televisi
nasional. Perubahan atau penyesuaian itu tak hanya di sisi penyedia konten dan
infrastruktur penyiaran, tetapi juga di masyarakat. Saat ini populasi pesawat
televisi tidak kurang dari 40 juta unit, dengan pemirsa lebih dari 200 juta
orang, jauh lebih banyak dibandingkan dengan komputer, misalnya, yang hanya
sekitar 5,9 juta unit. Terlihat bahwa penggemar televisi begitu banyak di
Indonesia .
Televisi adalah alat
penangkap siaran bergambar. Kata televisi berasal dari kata tele (jauh) dan
vision (tampak) jadi televisi memiliki arti dapat melihat dari jarak jauh.
Penemuan televisi ini mampu mengubah peradaban dunia. Semua gambar televisi
dibentuk oleh titik tunggal cahaya yang bergerak bolak-balik, depan-belakang
atau atas-bawah, secara cepat pada layar televisi yang tak tampak oleh mata,
sehingga yang terlihat hanyalah rangkaian gambar. Pada tahun 1884 Paul Nipkow
mencetuskan ide tentang pemindaian gambar dengan cara memecahkanya ke dalam
rangkaian titik cahaya yang bergerak secara linear menyeberangi sudut
pandangan. Sinyal televisi bekerja seperti radio AM, terkecuali dalam
penghubung pembawa frekuensi tinggi. Pada radio dari suara besar ke lembut
sedangkan televisi dari terang ke gelap. Perangkat televisi disinkronisasikan
dengan transmiter untuk menghasilkan pola yang tepat dari sebuah piksel yang
akan ditempatkan pada layar. Televisi ditransmisikan dengan dua pita frekuensi,
VHF (very high frequency) dan UHF (ultra high frequency), dan setiap saluran
memiliki lebar pita keseluruhan mencapai 6 MHz. Jaringan televisi pertama
menggunakan kabel coaxial dan teknologi gelombang mikro. Pada tahun 1970-an
satelit menjadi standar dalam menghubungkan kabel dan jaringan penyiaran kepada
afiliasi mereka dan untuk mentransmisikan berita lokal dan pergelaran olahraga
ke kantor berita pusat. Saat ini, jaringan serat optik juga ikut digunakan.
Kemunculan televisi digital
di indonesia harus dipikirkan dampak dan konsekuensinya karena selama ini masih
banyak masyarakat yang menggunakan dan terbiasa dengan televisi telivisi
analog. Sedikit ketidaknyamanan yang mau tidak mau harus diterima dengan
peralihan ke TV digital ini adalah: Perlunya pesawat TV baru atau paling tidak
kita perlu membeli TV Tuner baru yang harganya bisa dibilang cukup mahal. Hal
tersebut akan menimbulkan dampak yang besar, mengingat hampir seluruh komponen
pertelevisian di Indonesia masih menggunakan komponen analog, sehingga kemajuan
tekhnologi televisi digital ini dapat mematikan usaha-usaha kecil yang selama
ini telah ada. Karenanya hal ini mewajibkan Pemerintah untuk mensosialisasikan
lebih rinci kepada masyarakat.
Mahalnya perangkat
transmisi dan operasional broadcast berbasis tehnologi digital merupakan
persoalan tersendiri bagi kemampuan industri televisi di Indonesia.
Bagaimanapun untuk bisa menyiarkan program secara digital, perangkat pemancar
memang harus diganti dengan perangkat baru yang memiliki sistem modulasi
frekuensi secara digital. Untuk mem-back up operasional sehari-hari saja dengan
tingkat persaingan antar sesama radio dan televisi swasta nasional saja sudah
sangat berat, apalagi untuk harus mengalokasikan sekian persen pemasukan iklan
untuk digunakan bagi digitalisasi. Selain itu, dalam masa transisi, stasiun
televisi harus siaran multicast atau operasional di dua saluran secara paralel:
analog dan digital, karena tetap memberi kesempatan pada masyarakat yang belum
dapat membeli televisi digital.
Sistem pemrosesan
sinyalnya. Pada sistem digital, karena diperlukan tambahan proses misalnya Fast
Fourier Transform (FFT), Viterbi decoding dan equalization di penerima, maka TV
Digital ini akan sedikit terlambat beberapa detik dibandingkan TV Analog.
Ketika TV analog sudah menampilkan gambar baru, maka TV Digital masih beberapa
detik menampilkan gambar sebelumnya.
Bagaimana soal akses pada
jaringan media serta kondisi sistem akses itu sendiri. Persoalan seperti
pengaturan decoder TV digital maupun content media menjadi layak kaji dalam hal
ini. Dan akses pada spektrum frekuensi
Bagaimanapun pada era
penyiaran digital telah terjadi konvergensi antarteknologi penyiaran
(broadcasting), teknologi komunikasi (telepon), dan teknologi internet (IT).
Dalam era penyiaran digital, ketiga teknologi tersebut sudah menyatu dalam satu
media transmisi. Dengan demikian akses masyarakat untuk memperoleh ataupun
menyampaikan informasi menjadi semakin mudah dan terbuk. Terjadinya migrasi
dari era penyiaran analog menuju era penyiaran digital, yang memiliki
konsekuensi tersedianya saluran siaran yang lebih banyak, akan membuka peluang
lebih luas bagi para pelaku penyiaran dalam menjalankan fungsinya dan dapat
memberikan peluang lebih banyak bagi masyarakat luas untuk terlibat dalam
industri penyiaran ini.
Momentum penyiaran digital
dapat membuka peluang yang lebih banyak bagi masyarakat dalam meningkatkan
kemampuan ekonominya. Peluang usaha di bidang rumah produksi, pembuatan
aplikasi-aplikasi audio, video dan multimedia, industri senetron, film,
hiburan, komedi dan sejenisnya menjadi potensi baru untuk menghidupkan ekonomi
masyarakat. Televisi di Indonesia telah menjadi alat penting baik untuk hiburan
maupun untuk mendapatkan informasi. Baik televisi digital maupun analog dalam
penyiarannya memiliki kesamaan yaitu memiliki dampak psikologis terhadap
penontonnya. Dengan frekuensi menonton yang tinggi dan kualitas tontonan yang
rendah akan berdampak buruk baik pada orang dewasa maupun pada pada anak –
anak.
Sistem penyiaran TV Digital
penggunaan apliksi teknologi digital pada sistem penyiaran TV yang dikembangkan
di pertengahan tahun 90an dan diujicobakan pada tahun 2000. Pada awal
pengoperasian sistem digital ini umumnya dilakukan siaran TV secara bersama dengan
siaran analog sebagai masa transisi. Sekaligus ujicoba sistem tersebut sampai
mendapatkan hasil penerapan siaran TV Digital yang paling ekonomis sesuai
dengan kebutuhan dari negara yang mengoperasikan
Dampak Penyiaran TV Digital di Indonesia
Munculnya televisi di
Indonesia jelas memiliki dampak bagi semua karena selaa ini masih banyak
masyarakat yang masih menggunakan TV analog, dan masyarakat sudah terbiasa
dengan TV analog. Sedikit ketidaknyamanan yang mau tidak mau masyarakat harus
beralih pada TV digital. Berikut dampak dari adanya TV digital
Dampak Negatif
• Regulasi bidang penyiaran
yang harus diperbaiki,
• Standardisasi yang harus
segera ditentukan baik untuk perangkat dan teknologi yang akan digunakan,
• Industri pendukung yang
harus segera disiapkan baik perangkat maupun kontennya
• Mahalnya perangkat
transmisi digital
Tranmisi dan operasional
broadcast berbasis teknologi digital merupakan persoalan tersendiri bagi
kemampuan industri televisi di Indonesia. Agar dapat memancarkan siaran digital
memang harus mengganti semua perangkat dengan perangkat baru yang memiliki
sistim modulasi frekuensi secara digital. Untuk membankup operasional
sehari-hari saja dengan tingkat persaingan antar sesama radio dan televisi
swasta nasional saja sangat berat, apalagi untuk harus mengalokasikan sekian
pemasukan iklan untuk di gunakan bagi digitalisasi. Selain itu dalam masa
transisi, stasiun televisi harus siaran multicast atau operasional di dua
saluran secara parelel : analog dan digital, karena tetap memberi kesempatan
pada masyarakat yang belum depat membeli televisi digital.
• Sistem pemrosesan
sinyalnya. Pada sistem digital karena di perrlukan tambahan proses misalnya
Fast Fourier Transform (FFT), Viterbi decoding dan equalization di penerima,
maka TV Digital ini akan sedikit terlambat beberapa detik di bandingkan TV
analog. Ketika Tv analog sudah menampilkan gambar baru, maka TV Digital masih
beberapa detik menampilkan gambar sebenarnya. Di situlah waktu akan terbuang
karena perpindahan gambar pada Tv digital.
• Jika kanal Tv digital ini
di berikan secara sembarangan kepada pendatang baru, selain penyelenggara TV
siaran digital terrestrial harus membangun sendiri infrastruktur dari nol, maka
kesempatan bagi penyeleggara TV analog eksiting seperti TVRI, 5 TV swasta
eksiting dan 5 penyelenggara TV baru untuk berubah menjadi TV digital di
kemudian hari akan tertutup karena kanal frekuensinya sudah habis.
Dampak Positif
• Perpindahan penyiaran
digital dapat membuka peluang yang lebih banyak bagi masyarakat dalam
meningkatkan kemampuan ekonominya. Peluang usaha di bidang rumah produksi,
pembuatan aplikasi-aplikasi audio, video dan multimedia, industri sinetron,
film, hiburan, komedi dan sejeninya menjadi potensi baru untuk menghidupkan
ekonomi masyarakat.
• Masyarakat memiliki
kesmpatan lebh banyak untuk menjadi pemasok barang da jasa bidang radio dan
televisi digital, menjadi penyedia jasa pemasangan instalasi perangkat radio
dan televisi digital, membuat program aplikasi dan kesempatan usaha lainnya.
• Dalam penyelenggarakan
penyiaran dgital, saat ini mengkaji penyelenggaraan penyiaran yang terdiri atas
penyedia konten. Kajian ini untuk melihat kemungkunan penyelenggaraan penyedia
jaringan yang jumlahnya tidak banyak tetapi membutuhkan investasi yang besar sehingga
dalam penyelenggaraanya dapat di lakukan oleh konsorium.
• Siaran yang efektif
Dengan teknologi siaran
digital, dalam satu kanal bisa menayangkan empat sampai enam program sekaligus.
Hal ini karena broadcasting TV digital menggunakan sistem OFDM (Orthognel
Frequency Division Multiplexing) yang tangguh dalam mengatasi efek jamak
(multipath faiding).
• Memudahkan dalam menonton
Kemudahan untuk recivery
pada penerima dengan error correction code, serta mengurangi efek dopler jika
menerima siaran Tv dalam kondisi bergerak (misalnya di mobil, bus, maupun
kereta api)
• Signyalnya yang bagus
Signyalnya dapat menampung
program siaran dalam satu paket, di karenakan pemakain bandwidth pada TV
digital tidak sebesar TV analog.
• Siaran televisi digital
terestrial dapat diterima oleh sistem penerimaan televisi analog dan sistem
penerimaan televisi bergerak.
• Kualitas gambar yang
lebih halus dan tajam,
• Pengurangan terhadap efek
noise,
• Kemudahan untuk recovery
pada penerima dengan error correction code, serta
• mengurangi efek dopler
jika menerima siaran tv dalam kondisi bergerak (misalnya di mobil, bus, maupun
kereta api).
• Selain itu sinyal digital
dapat menampung program siaran dalam satu paket, dikarenakan pemakaian
bandwidth pada tv digital tidak sebesar tv analog.
KESIMPULAN
Kehadiran televisi
digital di Indonesia juga menimbulkan adanya dampak tertentu, baik dari segi
positif maupun negatif. Dari segi positif di antaranya adalah dapat memilih
program yang sesuai, memiliki gangguan yang lebih sedikit, dapat menikmati
tayangan yang lebih berkualitas. Sedangkan dampak negatifnya adalah, bagi
masyarakat yang menginginkan televisi digital maka harus membeli peralatan yang
mahal, harus membangun infrastruktur pertelevisian mulai dari nol maka penyelenggara
televisi analog dan swasta seperti TVRI, SCTV, RCTI yang sudah eksis harus
tutup karena kanal yang digunakan oleh televisi analog habis digunakan oleh
televisi digital.
Perbedaan keduanya
terletak pada perbedaan transmisi. Tv analog memancarkan sinyal analog dengan
modulisasi pada Frekuensi Carrier sedangkan tv digital memodulisasi sinyal
dengan mode digital. Dalam tv analog, gangguan yang terjadi dapat merusak
kualitas gambar, sehingga gambar memiliki kualitas yang rendah, berbeda dengan
tv digital yang tahan meminimalisir gangguan sehingga menghasilkan gambar yang
lebih berkualitas. Tv analog hanya dapat menampilkan satu tayangan program
dalam satu saluran, tv digital dapat menampilkan beberapa program sekaligus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar