Senin, 21 Mei 2012

Tugas perkembangan teknologi komunikasi




Dampak Kemajuan Teknologi dalam Bidang Film Baik Dari Sisi Penonton Maupun Industri


  • *     SEJARAH FILM
            Kemunculan film tak terlepas dari stimulasi yang dibawa oleh teknologi fotograf. Teknologi film sebenarnya merupakan teknologi dari lanjutan dari fotograf. Awal hadirnya inspirasi untuk membuat gambar bergerak muncul setelah seorang ilmuwan yang bekerja di Paris memotret pergerakan binatang dengan tujuan membandingkan pergerakan binatang satu dan lainnya. Dia adalah Etienne Jules Marey. Saat itu dia memotret pergerakan kuda menggunakan kamera foto. Informasi mengenai temuannya dipublis menjadi sebuah buku berjudul Animal Mechanism.

            Selanjutnya, pada 1877, Seorang fotograf bernama Eardweard Muybridge disewa oleh seorang peternak kuda jutawan, Leland Stanford. Stanford hendak membuktikan taruhannya bahwa ketika berlari keempat kaki kuda di angkat ke atas tanah. Untuk itulah Muybridge kemudian mengatur strategi agar dapat merekam pergerakan kuda yang simultan. Muybridge menggunakan Sequential Photographs untuk menciptakan ilusi pergerakan. Muybridge memotret pergerakan kuda menggunakan 12 kamera berbeda yang disebar sepanjang jalan yang dilalui kuda. Hasilnya, ternyata benar bahwa keempat kaki kuda diangkat ke atas tanah ketika berlari. Hasil potret Muybridge pun memberi sumbangsih besar dalam perkembangan studi gambar bergerak. Muybridge pun terus melakukan eksperimen pemotretan, jumlah kamera terus ditambah menjadi 24 kamera. Dia memotret hewan-hewan, lalu memotret pergerakan manusia. Muybridge berkeliling Eropa mempertunjukkan hasil-hasil potretannya. Akhirnya, pada suatu ketika, dia dan Marey bertemu. Hingga pada 1882, Marey menyempurnakan sebuah photographic gun camera yang dapat mengambil 12 potret dalam satu piringan (kamera gambar bergerak yang pertama). Inilah kamera gambar bergerak yang pertama ditemukan.

            Temuan-temuan Marey dan Muybridge terus dikembangkan oleh para ilmuwan lain. Gambar bergerak terus disempurnakan. Dimulai dari disempurnakannya kamera hasil Marey, lalu ditemukan proyektor untuk memutar gambar bergerak pada layar lebar, dilakukannya pembuatan dan pemutaran film hitam-putih, dikembangkannya teknik-teknik pengambilan gambar dan trik kamera, kemudian industri perfilman menjadi semakin ramai dengan banyaknya bermunculan studio-studio film besar di Hollywood, lalu semakin berkembangnya teknologi perfilman yang membuat film menyertakan suara, warna, dan animasi serta 3 dimensi. Hingga saat ini, perkembangan teknologi film terus berkelanjutan.

            Teknologi fim memiliki karakter yang spesial karena bersifat audio dan visual. Karakter ini menjadikan film sebagai cool media yang artinya film merupakan media yang dalam penggunaannya menggunakan lebih dari satu indera. Film pun menjadi media yang sangat unik karena dengan karakter yang audio-visual film mampu memberikan pengalaman dan perasaan yang spesial kepada para penonton/khalayak. Para penonton dapat merasakan ilusi dimensi parasosial yang lebih ketika menyaksikan gambar-gambar bergerak, berwarna, dan bersuara. Dengan karakter audio-visual ini juga film dapat menjadi media yang mampu menmbus batas-batas kultural dan sosial.

  • *     KELEBIHAN DAN KEKURANGAN FILM
            Kelebihan film adalah karakternya yang audio-visual menjadikan film lebih kuat dalam menyampaikan pesan kepada khalayak yang multikultur dan lintas kelas sosial. Perasaan dan pengalaman yang hadir saat menonton film pun menjadikan film sebagai media yang spesial karena dapat membuat khalayak terbawa ke dalam film bersama dimensi parasosial yang dihadirkan. Bagi para pembuat film, film merupakan media yang sangat representatif atas ide-ide kreatif mereka. Dan keakraban film terhadap khalayak menjadikan ide-ide dan pesan para pembuat film lebih gampang diterima khalayak.

            Kekurangan dari film adalah sebagai sangat multitafsir. Diperlukan analisa tersendiri untuk memahami unsur-unsur semiotik yang ditampilkan dalam film. Kemampuan film menembus batas-batas kultural di sisi lain justru membuat film-film yang membawa unsur tradisional susah untuk ditafsirkan bahkan salah tafsir oleh penonton yang berasal dari kelompok budaya lain. Sedangkan kekurangan lain dari film adalah film-film yang dibuat dalam universalitas akan turut membentuk apa yang disebut common culture yang dapat mengikis lokalitas masyarakat tertentu. Film juga sangat memberikan efek pada orang yang menontonnya terutama anak-anak, sehingga untuk jenis film-film tertentu seperti horor, kekerasan dan pornografi akan memberikan pengaruh negatif bagi khalayak. Dari segi industri, industrialisasi dan komersialisasi film telah menjadikannya sebagai media yang dikomodifikasi. Sehingga saat ini banyak film-film yang hanya mengejar pasar dan profit semata, kualitas pun tidak dipedulikan. Ideologi yang diusung film pun tidak jelas, semuanya hanya mengejar keuntungan.

  • *     FUNGSI FILM
            Seperti halnya televisi siaran, tujuan khalayak menonton film terutama adalah ingin memperoleh hibutan. Akan tetapi dalam film dapat terkandung fungsi informatif maupun edukatif, bahkan persuasif.

  • *     KARAKTERISTIK FILM
Layar yang luas/lebar
Pengambilan Gambar pemandangan menyeluruh
Konsentrasi penuh
Identifikasi Psikologis

  • *     JENIS-JENIS FILM
- Film Cerita
Jenis film yang mengandung suatu cerita yang lazim dipertunjukan di gedung-gedung bioskop dengan bintang tenar film tenar dan didistribusikan sebagai barang cadangan

- Film Berita
Peristiwa fakta, yang benar-benar terjadi

- Film Dokumenter
Karya ciptaan mengenai kenyataan.

- Film Kartun
Dikonsumsi untuk anak-anak.

*     DAMPAK KEMAJUAN TEKNOLOGI DALAM BIDANG FILM BAIK DARI SISI PENONTON MAUPUN INDUSTRI

Sebenarnya, dampak-dampak yang dihasilkan dari suatu karya itu bersumber dari pengkarya dan penikmatnya. Begitu juga dengan film yang merupakan hasil karya manusia. Semua itu kembali lagi pada faktor penyaji dan penikmatnya. Jika penyaji itu bijak dalam menyajikan dan penikmatnya pun bijak dalam menikmati, maka dampak yang akan munculpun pasti positif. Begitu pula sebaliknya.

Dampak kemajuan teknologi film dari sisi penonton :

Dalam konteks fisik:

·                  Terciptanya televisi digital, sehingga penonton dapat memilih film yang ingin ditonton hanya dengan satu saluran saja.

·                  Film yang dihasilkan lebih bervariasi dan bercorak. Sehingga penonton dapat memilih film apa yang ingin ditonton sesuai selera dan genre yang mereka sukai.

·                  Penonton tidak perlu menonton di lapangan seperti zaman dulu yang menggunakan layar tancap, tetapi hanya perlu datang ke bioskop atau bahkan membeli teknologi home theater untuk menonton di rumah

·                  Penonton dapat menyasikkan berbagai  film dengan fasilitas layar yang lebar dan suasana yang lebih nyaman sesuai dengan kehendaknya. Seperti ketika kita berada di bioskop, maka saat pemutaran film sudah dimulai lampu akan dimatikan.

·                  Saat ini, masyarakat tidak perlu repot untuk melihat jadwal tayang sebuah film, karena untuk mengecek jam tayang sebuah film kita dapat dengan mudah menggunakan fasilitas interner.
·                  Untuk menikmati gambar 3D, hendaknya disertai kacamata yang mendukung teknologi tersebut.

Dalam konteks moral (lebih mengacu pada peran film dalam mendidik penonton/ masyarakat):

- Dengan adanya film, para penonton akan dapat merefleksikan realitas, atau bahkan membentuk realitas. Cerita yang ditayangkan lewat film dapat berbentuk fiksi atau non fiksi. Lewat film, informasi dapat dikonsumsi dengan lebih mendalam karena film adalah media audio visual. Media ini banyak digemari banyak orang karena dapat dijadikan sebagai hiburan dan penyalur hobi bagi orang-orang tertentu
-Perkembangan film membuat masyarakat yang berperan sebagai penonton serta pengamat dapat mempelajari berbagai budaya. Baik itu budaya masyarakat di mana kita hidup di dalamnya, atau bahkan budaya yang sama sekali asing buat kita. Dan kita menjadi mengetahui bahwa budaya masyarakat ini begini dan budaya masyarakat itu begitu, terutama melalui film. Selain itu dengan adanya perkembangan film maka masyarakat (penonton) akan dengan mudah mengenal budaya pihak lainnya. Seperti contohnya Mereka menonton film Iran karena ingin tahu bagaimana kehidupan sosial budaya masyarakat Iran dan berbagai dinamikanya. Belum lagi film Ceko, Hongaria, Cile, Korea Utara, dan sebagainya.

- Dampak film dirasakan oleh penikmat (penonton) dan penyajinya (stasiun TV penyiar / sutradara dsb). Namun yang pertama kali terkena dampaknya ialah penikmatnya (penonton).  Seandainya jika ada seseorang yang memang berniat buruk dengan sengaja menyajikan film-film yang tidak sesuai dengan norma dan moral, maka para penonton yang kurang bisa menyikapi dengan bijak akan terdoktrin dengan adegan-adegan yang ia saksikan dalam film tersebut. Hal ini dapat menjadikan penonton menjadi pribadi yang buruk dan tidak bermoral.  Namun, film juga mempunyai dampak positif bagi penontonnya. Saat ini tidak sedikit orang yang menciptakan inovasi-inovasi baru yang terinspirasi dari film yang ditontonnya. Cukup banyak juga film-film yang berbau religi dimana moral sangat dijunjung tinggi. Film seperti ini dapat mendoktrin seseorang menjadi pribadi bermoral baik secara langsung ataupun tidak langsung.

-Berkembangnya film juga membuat film berperan ganda sebagai media sosialisasi dan media publikasi budaya yang ampuh dan persuasive bagi para penontonnya. Buktinya adalah ajang-ajang festival film semacam Jiffest (Jakarta International Film Festival), Festival Film Perancis, Pekan Film Eropa, dan sejenisnya merupakan ajang tahunan yang rutin di selenggarakan di Indonesia. Festival Film Indonesia dalam beberapa tahun ini mulai dihidupkan lagi setelah terhenti cukup lama. Film-film yang disajikan dalam pelbagai ajang festival tadi telah berperan sebagai duta besar kebudayaan mereka sendiri, untuk diperkenalkan kepada masyarakat yang memiliki budaya yang tentunya berbeda dengan dari mana film tersebut berasal. Duta besar yang tidak birokratis.

- Seiring dengan dampak-dampak sebelumnya, film juga berorientasi pada sebuah pemahaman sebagai representasi budaya. Film digunakan sebagai cerminan untuk mengaca atau untuk melihat bagaimana budaya bekerja atau hidup di dalam suatu masyarakat. Ketika kita melihat film Ali Topan maka pada dasarnya kita sedang melihat cerminan dari budaya remaja yang terjadi pada era di mana Ali Topan itu hidup. Dan ketika kita menonton film Ada Apa Dengan Cinta maka kita juga sedang melihat representasi budaya remaja era Dian Sastro dan Nicolas Saputra. film tidak hanya mengkonstruksikan nilai-nilai budaya tertentu di dalam dirinya sendiri, tapi juga tentang bagaimana nilai-nilai tadi diproduksi dan bagaimana nilai itu dikonsumsi oleh masyarakat yang menyaksikan film tersebut. Jadi ada semacam proses pertukaran kode-kode kebudayaan dalam tindakan menonton film sebagai representasi budaya.

Dampak perkembangan film dari sisi Industri:

·        ·       Bertambahnya studio film
Saat ini, teknologi berkembang sangat pesat di berbagai bidang termasuk dunia perfilman. Studio film semakin bertambah karena dunia perfilman ini memang cukup menjanjikan.  Studio film adalah perusahaan yang berfungsi untuk mendistribusikan film, namun sebenarnya studio film tidak hanya bertugas untuk mendistribusikan film tetapi juga membuatan film tersebut sehingga bisa didiistribusikan setelah film tersebut selesai digarap. Beberapa studio film yang terkenal adalah 20th Century Fox, Columbia Pictures, DreamWorks SKG, Paramount Pictures, Pixar Animation Studios, Sony Pictures Entertainment, Universal Studios dan Walt Disney Picture.

·        ·       Lahirnya software baru untuk mengolah film
            Sebelum tahun 1998, kebanyakan studio besar Hollywood membuat rekayasa imaji secara digital di pasca-produksi dengan bantuan software berbayar. Yang biasa digunakan adalah Adobe, Avid, atau Ulead. Semua ini adalah software yang dikembangkan oleh perusahaan software besar dan dijual. Software ini adalah software dengan Windows-based, atau dengan kata lain berjalan di atas sistem operasi Windows. Sistem operasi Windows sendiri adalah sistem operasi yang dominan saat itu. Hampir semua komputer menggunakannya. Bukannya karena tidak ada sistem operasi yang lain, tapi sistem penjualan Windows yang langsung dibundel pada PC atau laptop membuatnya secara otomatis dipakai oleh banyak orang.

            Tahun 1998, industri film mulai melirik sebuah sistem operasi baru yang ketika itu belum matang dan masih menjadi bahan uji coba sekaligus objek pengembangan sebagai sistem operasi gratis. Sistem operasi ini bernama Linux. Sekarang, nama Linux mungkin sudah tidak asing lagi. Tapi tahun 1998, ketika umur Linux baru 7 tahun dan pengembangannya pun belum maksimal, sistem operasi ini dilirik dan digunakan oleh Hollywood. Titanic adalah film pertama yang menggunakan Linux untuk membuat rekayasa imaji secara digital. Setelah itu, mulai banyak studio besar Hollywood yang menggunakan Linux, tidak hanya di post-produksi, tapi juga di PC dan server. Penggunaan Linux awalnya dimaksudkan untuk menghemat budget karena gratis. Tapi lama-kelamaan, pihak studio melakukan pengembangan sendiri untuk membuat atau pun modifikasi software editing yang sesuai dengan kebutuhan studio. Hal ini dimungkinkan karena Linux bebas dimodifikasi sesuai kebutuhan. Beberapa kebutuhan seperti; membuat rekayasa imaji yang rumit atau pun yang belum bisa dilakukan di Adobe, Avid, atau Ulead, bisa dilakukan di Linux.

The studios attract the best software designer talent on the planet. The work is very sophisticated. Open source studio application projects don’t have the resources to compete with the internal and commercial tools that studios have.

Industri film pun bukan hanya melibatkan film-maker, tapi juga software designer.

·        ·       Munculnya Era Film dalam bentuk VCD
Lalu pada tahun 2000-an mulailah masa VCD, kita yang dulu menunggu siaran tv menyiarkan film, kini kita dapat memilih sendiri film mana yang ingin kita lihat, dengan VCD player, CDnya di beli atau di sewa di rental,  ini dapat dinamakan zaman Kuch Kuch Hota Hai, seluruh masyarakat sedang terhipnotis film India, ramai-ramai menyewa VCD film India, Dil to pagal hai, Dil Se, Mission Kasmir, Soldier, Chori-chori Cupke cupke, Muhabbatain, dan lain-lain. Mungkin dalam masa ini memang agak sedikit rumit karena harus memasukan dan mengeluarkan CD karena dalam 1 CD tidak dapat mencakup keseluruhan film sehingga diperlukan beberapa CD untuk menyimpan satu buah film.

·        ·       Perkembangan film yang disertai pergeseran VCD ke terciptanya DVD

Pada Tahun  2004 semua kaset VCD ibaratnya seperti terkena Tsunami, bukan karena VCD kita hanyut oleh tsunami tapi mungkin karena terlalu banyak maksiat atau banyaknya masyarakat jahil di buatsecara sengaja untuk kepuasannya sendiri ,  namun berimbas pada masyarakat secara menyeluruh. Kemudian seiring perkembangan teknologi , film juga mulai berkembang lagi pada tahun 2006  sehingga mulailah zaman DVD, kini dalam 1 kaset ada 7 film bahkan lebih, awalnya sangat bagus kualitas gambarnya, tapi lama kelamaan muncullah pembajakan sehinga membuat kualitas gambar yang buruk.

  • ·       Munculnya Film dengan berbagai dimensi (1D, 2D, 3D)
Perubahan dalam industri perfilman, jelas nampak pada teknologi yang digunakan. Jika pada awalnya, film berupa gambar hitam putih, bisu dan sangat cepat, kemudian berkembang hingga sesuai dengan sistem pengelihatan mata kita, berwarna dan dengan segala macam efek-efek yang membuat film lebih dramatis dan terlihat lebih nyata. Film tidak hanya dapat dinikmati di televisi, bioskop, namun juga dengan kehadiran VCD dan DVD, film dapat dinikmati pula di rumah dengan kualitas gambar yang baik, tata suara yang ditata rapi, yang diistilahkan dengan home theater. Dengan perkembangan internet, film juga dapat disaksikan lewat jaringan superhighway ini.

Film yang paling fenomenal adalah Titanic yang pendapatannya sangatlah besar dan belum mampu untuk dikalahkan oleh film manapun setelahnya. Tidak hanya Film 2 D (dua dimensi) seperti Titanic yang berkembang dengan pesatnya, tetapi perkembangan Film 3 D (Tiga Dimensi) juga sangat luar biasa. Film pertama yang sangat kaya dengan teknologi adalah Star Wars. Pada tahun ini saja banyak film-film hollywood yang dibuat dengan teknologi tiga dimensi seperti ice age 3 dan Final Destination  3. Dengan perkembangan film-film tiga dimensi yang sangat luar biasa tentu saja membuat perkembangan teknologi pembuatannya semakin pesat.

Para penonton film 3 D diharuskan untuk menggunakan kacamata polarisasi agar mereka dapat melihat efek tiga dimensi dari Film yang mereka lihat. Dalam film Avatar kacamata polarisasi merupakan sebuah perkembangan dalam film 3D yang sebelumnya hanya menggunakan kacamata berlensa merah dan hijau. Berbeda dengan kacamata untuk menonton film 3D, kacamata polarisasi terlihat bening sama seperti kacamata biasa. Film ini menggunakan teknologi capture information, yang cara membuatnya dengan menggunakan komputerisasi dari image aksi manusia yang sesungguhnya. Gambar stereoscopic merupakan gambar dimana ketika kita melihat pada layar maka seolah-olah kita merasa bahwa gambar tersebut sangat dekat. Metode pengambilan gambar 3 D stereoscopic pertama kali ditemukan oleh Sir Charles Wheatstone pada tahun 1840. Stereoscopy digunakan banyak dalam photogrammetry serta di dalam dunia entertainment melalui produksi stereograms.

·        ·       Bereaksinya tingkat kreatifitas pembuatan Film Animasi

Munculnya film-film animasi yang mana itu adalah hasil karya dari kecanggihan teknologi komputer. Animasi sering disebut sebagai atribut genre. Animasi bukanlah genre namun lebih tepatnya merupakan sebuah teknik. Film animasi memiliki jangkauan wilayah cerita serta genre yang luas, seperti drama, fiksi-ilmiah, perang, fantasi, horor, musikal, hingga epik sejarah. Walau bisa dinikmati oleh semua kalangan, film animasi juga identik sebagai film hiburan anak-anak karena pada kenyataannya sebagian besar film yang diproduksi memang ditujukan untuk anak-anak. Dalam beberapa kasus seperti di Jepang misalnya, film animasi juga diproduksi untuk segmen penonton dewasa.

Awal Perkembangan Animasi


            Sejak awal ditemukannya sinema, para pembuat film telah menggunakan teknik animasi untuk menghasilkan efek visual, seperti ledakan, roket, serta benda terbang lainnya dalam film-film mereka. Film animasi penuh pendek pertama dengan format film standart tercatat adalah Humorous Phases of Funny Faces (1906) yang diproduksi oleh kartunis surat kabar Amerika, J. Stuart Blackton. Film animasi ini menggambarkan seorang kartunis yang tengah menggambar wajah di sebuah papan tulis. Di wilayah Eropa film animasi pendek Fantasmagorie (1908) karya Émile Cohl asal Perancis tercatat sebagai salah satu film animasi tertua. Sementara film animasi panjang pertama adalah El Apóstol (1917) karya Quirino Cristiani, animator asal Argentina. Animasi stop-motion “3-D” pertama tercatat adalah The Grasshopper and the Ant (1911) dan The Cameraman's Revenge(1911) karya animator Soviet Wladislaw Starewicz. Pada periode film bisu ini, film-film animasi berkembang demikian pesat hampir di seluruh negara di dunia baik di Asia, Eropa, dan terutama di Amerika.

Karakter animasi pertama yang sangat berpengaruh dan sukses adalah Gertie, si Brontosaurus dalam Gertie the Dinosaur (1914) yang filmnya berisi sebanyak 10.000 frame gambar. Sang kreator adalah animator komik kenamaan harian New York Herald, yakni Winsor McCay. Beberapa tahun kemudian karakter populer, si kucing Felix karya animator Otto Messmer, muncul pertama kali dalam film Feline Follies (1919) dan Musical Mews (1919). Kucing superstar ini muncul dalam ratusan film pada satu dekade ke depan dan tercatat merupakan karakter animasi pertama yang sukses menjadi merchandise. The Last Life (1928) tercatat sebagai film animasi Felix terakhir yang popularitasnya semakin menurun karena munculnya teknologi suara dan kalah bersaing dengan superstar Walt Disney, Mickey Mouse. Sementara animator legendaris Walt Disney semasa era film bisu ini tercatat telah sukses dengan seri kartun Alice serta Oswald, Si Kelinci.

Animasi di Era Awal Film Bicara

Datangnya teknologi suara pada akhir dekade 20-an semakin mendukung perkembangan film animasi. Pada tahun 1928, Ub Werks, animator studio Disney mengembangkan karakter baru sebagai pesaing karakter Felix The Cat. Karakter animasi populer, Mickey Mouse muncul pertama kali dalam Plane Crazy (1928) serta diikuti Steamboat Willie (1928). Dalam Steamboat Willie, karakter Mickey telah muncul bersama pasangannya Minnie, yang suara keduanya diisi sendiri oleh Walt Disney. Steamboat Willie juga tercatat sebagai film animasi pertama yang menggunakan sinkronisasi suara. Film ini merupakan landmark bagi perkembangan film animasi sekaligus pemicu sukses karakter si tikus setelahnya. Dalam perkembangan selanjutnya Walt Disney berkembang menjadi studio pelopor yang paling sukses memproduksi film-film animasi.

Tidak kalah dengan Disney beberapa studio kompetitor lainnya turut mengembangkan beberapa karakter animasi yang masih dikenal hingga kini. Fleischer Brothers adalah empat bersaudara yang bertanggungjawab mempopulerkan karakter-karakter populer seperti Bimbo, Betty Boob, hingga Popeye. Si seksi Betty Boob mulai populer dalam film Silly Scandals (1931) namun setelah sukses dengan beberapa filmnya karakter ini mulai memudar setelah munculnya lembaga sensor film. Sementara karakter Popeye muncul pertama kali bersama Betty Boop dalam Popeye the Sailor (1933). Sejak tahun 1938, Popeye menggantikan Mickey Mouse sebagai karakter animasi paling populer di Amerika yang bertahan hingga dua dekade ke depan. Fleischer Brothers bersama DC Comics kelak juga mempelopori film animasi superhero populer, Superman (1941) yang diikuti belasan seri lainnya.

Periode Emas Film Animasi di Era Klasik
  
Selain sukses dengan seri Mickey Mouse, Disney juga sukses besar dengan seri kartun Silly Symphony. Seri pertamanya adalah Skeleton Dance (1929) dan kemudian berlanjut sampai dengan 70 episode lebih hingga tahun 1939. Selama satu dekade ini seri Silly Symphony juga sukses menyabet tujuh Oscar untuk kategori animasi pendek terbaik. Flowers and Tree (1932) adalah peraih Oscar pertama untuk studio Disney serta tercatat sebagai film animasi pertama yang menggunakan teknologi tiga warna (technicolor). Seri yang paling populer adalah The Three Little Pigs (1933) dengan lagu hit-nya Who’s Afraid of the Big Bad Wolf?. Pada era 30-an ini pula ikon populer Disney lainnya mulai bermunculan, yakni Pluto, Goofy, serta Donald Duck. Walt Disney meraih kejayaannya pada akhir dekade 30-an hingga 50-an melalui belasan film animasi panjangnya. Disney mengawali rentetan suksesnya melalui animasi klasik, Snow White and the Seven Dwarfs (1937) yang tercatat sebagai pencetak keuntungan terbesar pada tahun rilisnya. Film yang merupakan perpaduan roman, fantasi, serta musikal ini menjadi formula dasar sehingga muncul berbagai film-film lainnya yang hampir sama dengan kisah film sebelumnya,seperti Pinocchio (1940), Bambi (1942), Cinderella (1950), Sleeping Beauty (1959). Disney juga melakukan terobosan besar melalui film termahalnya saat itu, yakni Fantasia (1940) yang merupakan perpaduan harmonis antara musik klasik dengan animasi.

Studio Warner Bros. (WB) bersama tim animatornya, Isadore "Friz" Freleng, Bob Clampett, Chuck Jones, serta Tex Avery, bersaing dengan Disney melalui seri kartunnya yang ekstrem, brutal, serta “sadistik” yang memang ditujukan untuk penonton dewasa melalui seri Looney Toons dan Happy Harmonies. Melalui seri inilah ikon-ikon kartun klasik seperti Porky Pigs, Bugs Bunny, Elmer Fudd, Duffy Duck, Sylvester, Tweety, Speedy Gonzales, Road Runner, hingga Coyote mulai muncul. Mel Blanc juga dikenal sebagai pengisi suara nyaris semua ikon kartun WB tersebut. Sementara karakter kartun eksentrik WB lainnya, yakni Pink Panther baru muncul pada awal dekade 60-an.

Sementara itu studio MGM bersama William Hanna dan Joseph Barbera menjadi rival serius Disney dan WB melalui seri kartun populernya, Tom & Jerry. Dua karakter ini muncul pertama kali dalam Puss Gets the Boot (1940). Sukses film ini berlanjut hingga dua dekade ke depan yang diproduksi hingga lebih dari seratus judul. Karakter kucing dan tikus ini mampu mendobrak dominasi Disney dengan meraih Oscar (animasi pendek terbaik) lebih banyak dibandingkan seri kartun lainnya. Dalam dekade 40-an saja tercatat ada lima judul film yang meraih Oscar yakni, Yankee Doodle Mouse (1943), Mouse Trouble (1944), Quiet, Please! (1945), The Cat Concerto (1946) serta The Little Orphan (1948).

Pada periode ini teknik animasi stop-motion juga populer yang dipelopori oleh Ray Harryhausen, yang dijuluki pula bapak animasi stop-motion. Teknik ini sering digunakan sebagai efek visual dalam film-film fiksi ilmiah untuk menggambarkan karakter raksasa, monster, makhluk angkasa, dan lain sebagainya. Ray mulai terlibat produksi animasi stop-motion dalam Mighty Joe Young (1949), dan namanya mulai dikenal setelah bekerja dalam film-film sukses seperti Earth vs. The Flying Saucers (1956), The 7th Voyage of Sinbad (1958), Mysterious Island (1961), serta Jason and the Argonauts (1963). Ray masih terlibat dalam produksi animasi stop-motion hingga awal dekade 80-an.

Pada era akhir 60-an hingga pertengahan 80-an film animasi nyaris tidak mengalami perkembangan yang berarti. Disney sepanjang dua dekade ini hanya mengeluarkan film-film animasi kelas duanya, seperti The Aristocats (1970), The Rescuers (1977), hingga Tron (1982). Sistem sensor yang mulai memudar di awal dekade 60-an juga berdampak pada film-film animasi seperti tampak pada karya-karya Ralph Bakshi. Salah satu arahannya, Fritz the Cats (1972) merupakan film animasi pertama yang mendapatkan rating X. Film ini berkisah tentang seekor kucing yang menyukai seks dan obat-obatan. Bakshi juga memproduksi animasi unik bertema fantasi, Wizard (1977) dan The Lord of the Rings (1978).

Perkembangan di Era 80-an hingga Kini

Pada era akhir 80-an hingga pertengahan 90-an Disney akhirnya kembali berjaya dengan film-film animasi konvensionalnya seperti pada era klasik. Diawali dengan kisah si putri duyung, The Little Mermaid (1989) yang sukses luar biasa sehingga pihak studio semakin bergairah memproduksi animasi sejenis. Sukses fenomenal berlanjut melalui film-film animasi seperti The Beauty and theBeast (1991), Alladin (1992), The Lion King (1994), Pocahontas (1995), serta Mulan (1998). Selain sukses komersil, The Beauty and the Beast juga tercatat sebagai film animasi pertama yang meraih nominasi Oscar untuk film terbaik. Sementara The Lion King pada masanya mencatatkan diri sebagai film animasi terlaris sepanjang sejarah. Semenjak era digital mendominasi, popularitas animasi tradisional Disney semakin menurun. Tercatat Home on the Range (2004) adalah film 2-D terakhir yang diproduksi Disney.

Pencapaian mengagumkan juga diperlihatkan film komedi Who Framed Roger Rabbit (1988) yang mampu menggabungkan animasi dengan aksi nyata secara meyakinkan. Film ini menampilkan nyaris semua ikon-ikon kartun era klasik baik Disney, WB, serta MGM. Teknik animasi stop-motion rupanya juga masih menjadi pilihan terbukti dengan suksesnya film The Nightmare Before Christmas (1993), James and the Giant Peach (1996), Chicken Run (2000), serta Wallace & Gromit: The Curse of the Were-Rabbit (2005). Animasi 2-D juga rupanya masih menjanjikan melalui adaptasi seri kartun televisi seperti Southpark: Bigger, Longer, and Uncut (1999), Pokemon The Movie (1999), The SpongeBob SquarePants Movie (2004) serta The Simpsons Movie (2007).
 

Rekayasa digital (CGI) pada pertengahan dekade 90-an akhirnya mulai mengambil-alih teknik animasi konvensional dengan pencapaian grafis yang sangat mengagumkan. CGI pun sudah lazim digunakan untuk efek visual film-film non-animasi, sepertiTerminator 2 (1991) dan Jurrasic Park (1993). Dimotori oleh studio animasi Pixar, teknologi CGI mulai mendominasi pasar film-film animasi yang diproduksi pada dekade ini hingga mendatang. Bekerja sama dengan Disney, Pixar mengawali suksesnya melalui Toy Story (1995) yang menjadi tonggak sejarah perkembangan animasi di era digital. Kolaborasi Disney-Pixar berlanjut melalui film-film sukses berkualitas tinggi seperti, Toy Story 2 (1999), Monster Inc. (2001), Finding Nemo(2003), serta The Incredibles (2004). Pada tahun 2006, Disney membeli studio Pixar dan terbukti sukses dengan film-film berikutnya seperti Ratatouille (2007), serta yang baru lalu Wall-E (2008). Studio Dreamworks menjadi rival serius Disney melalui Shrek (2001) serta sekuelnya Shrek 2 (2004) yang sukses begitu fenomenal. Studio 20th Century Fox juga sukses melalui Ice Age (2002) bersama sekuelnya, Ice Age 2: The Meltdown (2006).

·                  ·Perubahan gambar film yang dihasilkan semakin baik

Dulu film yang dihasilkan berupa gambar hitam putih, namun seiring perkembangan teknologi , film yang ada sudah mulai bergeser ke gambar bewarna seperti nyatanya objek tersebut. Sebelumnya film-film yang muncul adalah film bisu (tidak ada suaranya) hanya ada adegan-adegan sehingga penonton tidak begitu paham (sulit) untuk menangkap pesan yang ingin disampaikan. Dengan kemajuan teknologi, kini jelas memberikan kontribusi besar pada perkembangan di bidang film, karena banyak memberikan perubahan seperti ; suara yang ada bisa terdengar dengan jelas, bersih, dan noisenya hampir tak terdengar ; Adegan-adegan yang terdapat dalam film bisu berlangsung sangat cepat, kini film yang ada berdurasi kurang lebih 2 jam dengan narasi yang runtut; Film-film yang ada dapat diberikan musik latar dengan teknologi komputer dan segala macam efek-efek yang membuat film lebih dramatis dan terlihat lebih nyata.

·                  ·                  Peminimalisiran biaya produksi film
Dengan teknologi komputer, film dapat dibuat dengan biaya produksi yang lebih murah namun dengan tetap menjamin kualitas yang menjanjikan serta dapat pula digunakan dalam mempromosikan film ke khalayak virtual. Penonton tidak perlu lagi kesulitan karena saat ini dapat dengan praktis mendownload film yang ingin ditonton. Sehingga pembajakan pun  semakin meningkat pula.

·                  ·                  Semakin canggihnya property pembuatan film
Alat-alat produksi seperti kamera, komputer dll memiliki ukuran yang semakin kecil dan semakin canggih sehingga memudahkan dalam pembuatan film.

·                  ·                  Lahirnya produser-produser handal
Bermunculannya produser membuat film-film yang lebih imajinatif, kreatif dan modern. Film yang dihasilkan terlihat seperti nyata berkat kemajuan teknologi saat ini. Seperti harry potter, star wars, spiderman, transformer dll.

·                  ·            Dalam film Avatar kacamata polarisasi merupakan sebuah perkembangan dalam film 3 D yang sebelumnya hanya menggunakan kacamata berlensa merah dan hijau. Berbeda dengan kacamata untuk menonton film 3 D, kacamata polarisasi terlihat bening sama seperti kacamata biasa.
  • ·        Munculnya Computer Generated Imagery (CGI)
Aplikasi komputer grafis yang digunakan adalah Beberapa software dari CGI yang popular atau sering digunakan antara lain Maya, Blender, Art of Illusion dll. Computer-generated imagery (juga dikenal sebagai CGI) adalah penerapan bidang komputer grafis, atau lebih khusus, grafis 3D komputer untuk efek khusus dalam film, program televisi, iklan dan simulasi umumnya, dan media cetak. Dengan perangkat lunak ini bisa diciptakan gambar 3D lengkap dengan berbagai efek yang dikehendaki. Salah satu efek CGI dalam film yaitu digital grading. Dengan efek ini warna asli hasilshooting direvisi menggunakan perangkat lunak untuk memberikan kesan sesuai dengan skenario. Contoh penerapan efek ini yaitu penggunaan pada wajah Sean Bean (pemeran Boromir) dalam ”The Lord of the Rings : The Two Tower” ketika mati dibuat lebih pucat. Jadi, tidak dengan trik kosmetik, tetapi dengan polesan computer.

·                  ·                  Dengan teknologi capture information, film animasi seperti avatar dibuat dengan menggunakan komputer dari image aksi manusia yang sesungguhnya. Selain itu, dengan kemajuan teknologi, film yang dihasilkan dapat berupa gambar stereoscopic. Gambar stereoscopic merupakan gambar dimana ketika kita melihat pada layar maka seolah-olah kita merasa bahwa gambar tersebut sangat dekat.

·                  ·                  Mimik wajah pemainnya dapat dibuat dengan menggunakan teknologi bukan lagi tata rias. Kecanggihan teknologi visual membuat sineas menjadi tak kesulitan menciptakan imajinasi melalui efek visual khusus yang memanjakan mata dan membuat penonton berdecak.



Sumber terkait :